Gambar Slide 1 -- Masih Proses Seting

Catatan Moh. Sholihin -->>> Terima pembuatan website dan Weblog sekolah, personal, organisasi dan perusahaan dengan desain yang berkualitas.

Gambar Slide 2 -- Masih Proses Seting

Catatan Moh. Sholihin -->>> Terima pembuatan website dan Weblog sekolah, personal, organisasi dan perusahaan dengan desain yang berkualitas.

Gambar Slide 3 -- Masih Proses Seting

Catatan Moh. Sholihin -->>> Terima pembuatan website dan Weblog sekolah, personal, organisasi dan perusahaan dengan desain yang berkualitas.

Gambar Slide 4 -- Masih Proses Seting

Catatan Moh. Sholihin -->>> Terima pembuatan website dan Weblog sekolah, personal, organisasi dan perusahaan dengan desain yang berkualitas.

Showing posts with label Makalah BK. Show all posts
Showing posts with label Makalah BK. Show all posts

Thursday, 1 May 2014

Acuan Saja

Sebagai Alat bantu pembuatan Menu Blog




MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN POSTINGAN INI

Friday, 21 June 2013

BIMBINGAN DAN KONSELING KARIER



TUGAS
BIMBINGAN DAN KONSELING KARIER
Dosen Pembimbing :
Prof.Dr. SUTOYO IMAM UTOYO, M.Pd












ZAHROTUL MUFIDAH (100401010096)
CHINTYA KARTIKA M (100401010130)
DWI PEBRIANTI (100401010133)
MUH.MUHLAS ADI (100401010137)
MAMLU’ATUL KARIMAH (100401010142)
ALNASAFITRI (100401010146)
DANNY SEPTA A (100401010157)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
Soal
1.      Kemukakan dasar pandangan Holland tentang pemilihah jabatan.
2.      Buatlah contoh 3 buah jabatan untuk setiap suasana pekerjaan (6 suasana pekerjaan) yang dikemukakan oleh Holland.
3.      Sebutkan 5 buah ciri kepribadian untuk setiap 6 model orientasi pribadi menurut Holland.
4.      Kemukakan 2 buah faktor yang menentukan tingkat urutan pola arah pilihan jabatan menurut Holland.
5.      Kemukakan asumsi menurut Super adanya hubungan antara kebendaan dengan pola kemampuan kerja.
6.      Jelaskan peranan identifikasi dan kesempatan berperan seseorang dalam perkembangan arah pekerjaan menurut Super.
7.      Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan karir menurut Super.
8.      Kemukakan 3 alasan mengapa pilihan kerja itu dapat dibimbing.
9.      Jelaskan fakktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja.
10.  Jelaskan mengapa periode antisipasi dan implementasi itu mempunyai arti yang penting dalam perkembangan arah pilihan pekerjaan menurut Tledeman.
Jawab  
1.      Mempunyai suatu pendekatan yang lebih komprehensif dengan mengintergrasikan pengetahuan – pengetahuan yang telah ada. Pada dasarnya teori ini menganggap bahwa suatu pemilihan jabatan adalah merupakan hasil dan interaksi antara hereditas dengan segala pengaruh seluruh kebudayaan serta suasana yang meliputi teman bergaul, orangtua, orang dewasa yang dianggap penting serta suasana sosial dimana seseorang itu berada.
2.      a. Pengetrapan : operatr mesin, petani, penerbang, sopir dan tukang cat, dsb.
b. Intelektual : ahli fisika, ahli antropolgi, ahli kimia, ahli matematika, dan ahli biologi, dsb
c. Pelayanan : guru, pekerja sosial, konselor dan therapist, dsb
3.      a. Orientasi pengetrapan
Secara singkat orang seperti demikian mempunyai ciri khas : kejantanan, kekuatan otot, dan keterampilan fisik, konkrit, bekerja dengan praktis, kurang dalam keterampilan sosial dan kurang peka dalam hubungan dengan orang lain.
b. Orientasi intelektual
Orang yang demikian, dalam menghadapi problema cenderung untuk merenungkan dari pada bertindak untuk mengatasinya. Mereka menyukai tugas-tugas yang bersifat kabur dan kegiatan-kegiatan yang bersifat intraseptif, mereka menganut nilai-nilai dan sikap yang tidak konfensional.
c. Orientasi pelayanan
Mereka pada umumnya pandai bergaul dan berbicara, bersifat responsif, mempunyai perhatian terhadap orang lain dan menerima dorongan serta bersifat religius.
d. Orientasi pengabdian
Mereka mempunyai kecenderungan terhadap latar versal ini menerima yang teratur dan senang memegang jabatan untuk mengabdi, mereka mendapat tujuannya dengan menyesuaikan kebutuhannya akan ketergantungan pada atasan, ini tampak pada efektifitasnya melaksanakan tugasnya yang terakhir.
e. Orientasi pengaturan
Orang yang demikian cenderung untuk menggunakan keterampilan-keterampilan berbicara dalam situasi dimana ada kesempatan untuk menguasai orang lain, atau mempengaruhi orang lain.
4.      a. Pengaruh pengetahuan diri
Pengaruh pengetahuan diri ini lebih ditujukan pada pengetahuan individu tentang dirinya dari orang lain. Pengetahuan diri sendiri mempunyai peranan untuk meningkatkan (increase) atau mengurangi (decrease) ketepatan pilihan seseorang. Pengetahuan diri ini diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk membedakan berbagai kemungkinan lingkungan dipandang dari sudut kemampuan-kemampuannya sendiri, namun ada perbedaan mendasar antara penilaian diri dan pengetahuan diri, penilaian diri menitikberatkan pada penghargaan terhadap dirinya sedangkan pengetahuan diri berisikan sejumlah informasi yang dimiliki seseorang tentang dirinya. Tinggi rendahnya pengetahuan diri seseorang akan terlihat dari tepat atau tidaknya beberapa pilihan atau keputusan yang diambil.
b. Pengaruh Luar atau lingkungan
Pengaruh ini memiliki faktor yang sangat luas, dijelaskan bahwa dalam memilih jabatan atau pekerjaan individu dapat dipengaruhi dengan tekanan sosial seperti, tuntutan orang tua, pengaruh dari masa kecil, lingkungan pergaulan, dsbg. Hal tersebut sangat mempengaruhi individu dalam hasil pengukuran pada tingkat hirarkis dan hirarkis perkembangan.
5.       
6.       
7.      Kecenderungan pemilihan jabatan tergantung dari seberapa jauh anak mengidentifikasi dan mendapat kesempatan berperan dalam kehidupannya. Faktor identifikasi yang dilakukan oleh anak pada masa kanak-kanak dan masa remaja memegang peranan dalam membentuk minat terhadap suatu pekerjaan dan memberikan bermacam peranan yang membantu perkembangan yang memberikan implementasi terhadap konsep diri asalkan kemampuan dan kesempatan yang diperlukan itu ada dan cukup. Kecenderungan dan kemampuan kerja, situasi kehidupan dan situasi bekerja, akan mengakibatkan konsep diri berkembang sesuai dengan bertambahnya umur dan pengalaman, yang akan mengarahkan pilihan dan penyesuaian kerja menjadi suatu proses yang kontinue.
8.      Faktor tersebut sebagian terdapat pada individu sendiri dan untuk sebagian terdapat pada lingkungan hidupnya yang semuanya berinteraksi satu sama lain dan bersama – sama membentuk proses perkembangan karier seseorang. Pilihan jabatan merupakan suatu perpaduan dari aneka faktor pada individu sendiri seperti kebutuhan sifat – sifat kepribadian serta kemampuan intelektual dan banyak faktor diluar individu seperti taraf kehidupan sosial ekonomi keluarga, variai tuntutan lingkungan kebudayaan, dan kesempatan atau kelonggaran yang muncul.
9.      Faktor Kepuasan Finansial, yaitu terpenuhinya keinginan karyawan terhadap kebutuhan finansial yang diterimanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari sehingga kepuasan kerja bagi karyawan dapat terpenuhi. Hal ini meliputi; system dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan serta promosi.
Faktor Kepuasan Fisik, yaitu faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan. Hal ini meliputi; jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan/suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur.
Faktor Kepuasan Sosial, yaitu faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik antara sesama karyawan, dengan atasannya maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya. Hal ini meliputi; rekan kerja yang kompak, pimpinan yang adil dan bijaksana, serta pengarahan dan perintah yang wajar.
Faktor Kepuasan Psikologi, yaitu faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan. Hal ini meliputi; minat, ketentraman dalam bekerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan.

10.   



Belajar dan Pembelajar Teori Humanisme


Belajar dan Pembelajar
Teori Humanisme
TEORI HUMANISME (CARL ROGERS )

MAKALAH























  
Oleh :

Zahrotul Mufidah ( 100401010096 )







UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING


Pengenalan Tokoh

Carl Ransom Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinios, Chicago. Rogers meninggal dunia pada tanggal 4 Pebruari 1987 karena serangan jantung. Latar belakang: Rogers adalah putra keempat dari enam bersaudara.

Rogers dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan dan menganut aliran protestan fundamentalis yang terkenal keras, dan kaku dalam hal agama, moral dan etika. Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran fenomenologis-eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide – ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam pengalaman -pengalaman terapeutiknya.

Teori Rogers
Ide pokok dari teori – teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah – masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.

Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri.
Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak-kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya. Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak – kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.
Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda – beda tergantung pada pengalaman – pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilahself sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut. Konsep diri
menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku.

Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu
1)      konsep diri real dan
2)      konsep diri ideal.

Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu
1)      Inco ngruence dan
2)      Congrue nce.

Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. SedangkanCongruence adalah situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebutneed for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu
1)      conditional positive regard (bersyarat) dan
2)      unconditional positive regard (tak bersyarat).

Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positip tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.

Lima sifat khas orang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being):

1. Keterbukaan pada pengalaman
Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun negatip.

2. Kehidupan Eksistensial
Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya.

3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.

4. Perasaan Bebas
Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan – paksaan atau rintangan – rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya.

5. Kreativitas
Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri – ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya.

Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata – mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya. Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respons secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subyektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara obyektif.
Rogers juga mengabaikan aspek – aspek tidak sadar dalam tingkah laku
manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis. Teori Rogers ini memang sangat populer dengan masyarakat Amerika yang memiliki karakteristik optimistik dan independen karena Rogers memandang bahwa pada dasarnya manusia itu baik, konstruktif dan akan selalu memiliki orientasi ke depan yang positip. Pertanyaannya yaitu : Apakah teori ini juga akan sama efektifnya jika diaplikasikan pada masyarakat dengan budaya, dan struktur sosial serta sistem kemasyarakatan yang berbeda dengan Amerika?


Teori Belajar Humanisme

A. Pengertian Teori Belajar Humanisme
Pengertian humanisme yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula. Sehingga perlu adanya satu pengertian yang disepakati mengenai kata humanisme dalam pendidikan. Dalam artikel “What is Humanisme Education?”, Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru dapat dikatakan bersifat humanisme dalam beberapa kriteria. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa tipe pendekatan humanisme dalam pendidikan. Ide mengenai pendekatan-pendekatan ini terangkum dalam psikologi humanisme.

B. Penerapan Teori Belajar Humanisme
Belajar adalah menekankan pentingnya isi dari proses belajar yang tujuannya adalah memanusiakan manusia atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi teori humanisme dalam pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Hal ini dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi, membahas materi secara berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatny masing-masing di depan kelas. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi yang diajarkan.Pembelajaran berdasarkan teori humanisme ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.

Guru yang baik menurut teori ini adalah : Guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Ruang kelads lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada perubahan. Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah ,mudah menjadi tidak sabar ,suka melukai perasaan siswa dengan komentsr ysng menyakitkan,bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada. Beberapa prinsip dasar dari pendekatan humanisme yang dapat kita pakai untuk mengembangkan pendidikan :

  1. Murid akan belajar dengan baik apa yang mereka mau dan perlu ketahui. Saat mereka telah mengembangkan kemampuan untuk menganalisa apa dan mengapa sesuatu penting untuk mereka sesuai dengan kemampuan untuk mengarahkan perilaku untuk mencapai yang dibutuhkan dan diinginkan, mereka akan belajar dengan lebih mudah dan lebih cepat. Sebagian besar pengajar dan ahli teori belajar akan setuju dengan dengan pernyataan ini, meskupun mereka mungkin akan tidak setuju tentang apa tepatnya yang menjadi motivasi murid.

  1. Mengetahui bagaimana cara belajar lebih penting daripada membutuhkan banyak pengetahuan. Dalam kelompok sosial kita dewasa ini dimana pengetahuan berganti dengan sangat cepat , pandangan ini banyak dibagi diantara kalangan pengajar, terutama mereka yang datang dari sudut pandang kognitif.

  1. Evaluasi diri adalah satu satunya evaluasi yang berarti untuk pekerjaanmurid. Penekanan disini adalah pada perkembangan internal dan regulasi diri.Sementara banyak pengajar akan setuju bahwa ini adalah hal yang penting, mereka juga akan mengusung sebuah kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan murid untuk berhadapan dengan pengharapan eksternal. Pertemuan dengan pengaharapan eksternal seperti ini menghadapkan pertentangan pada sebagian besar teori humanisme.

  1. Perasaan adalah sama penting dengan kenyataan. Banyak tugas dari pandangan humanisme seakan memvalidasi poin ini dan dalam satu area, pengajar yang berorientasi humanisme membuat sumbangan yang berarti untuk dasar pengetahuan kita.

  1. Murid akan belajar dengan lebih baik dalam lingkungan yang tidak mengancam. Ini adalah salah satu area dimana pengajar humanisme telah memiliki dampak dalam praktek pendidikan. Orientasi yang mendukung saat ini adalah lingkungan harus tidak mengancam baik secara psikologis, emosional dan fisikal.

Menurut aliran humanisme, para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapa psikolog humanisme melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang, untuk lebih baik, dan juga belajar. Jadi sekoah harus berhati-hati supaya tidak membunuh insting ini dengan memaksakan anak belajar sesuatu sebelum mereka siap. Jadi bukan hal yang benar apabila anak dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara fisiologis dan juga punya keinginan.

Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk memenuhi kebutuhankebutuhan yang lebih tinggi, bukan sebagai konselor seperti dalam Freudian ataupun pengelola perilaku seperti pada behaviorisme. Secara singkatnya, pendekatan humanisme dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut.

Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Para pendidik hanya membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.

C. Implikasi Teori Belajar Humanisme
Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk):

1.  Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok,  atau pengalaman kelas

2.  Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.

3.  Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.

4.  Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.

5.  Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk
dapat dimanfaatkan oleh kelompok.

6.  Menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok

7.  Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.

8.  Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa

9.  Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan
adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar

10.  Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk
menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.